Khawatir Permintaan Turun, Harga Minyak Mentah Langsung Melemah

Penulis: Ratna Iskana

25/6/2019, 14.12 WIB

Pertemuan Trump dan Xi Jinping berpotensi negatif terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global sehingga melemahkan permintaan minyak dan komoditas lainnya.

harga minyak, perang dagang as tiongkok, konflik as iran
KATADATA
Ilustrasi, Pengeboran minyak lepas pantai. Harga minyak brent turun tipis sebesar 0,9% menjadi US$ 64,29 per barel. Harga minyak mentah berjangka Amerika (WTI) juga turun sekitar 1% menjadi US$ 57,32 per barel.

Laju harga minyak mentah terhenti pada Selasa (25/6) menyusul kekhawatiran adanya penurunan permintaan di masa depan. Terlebih lagi akan ada pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada pekan ini.

Pertemuan tersebut diproyeksi berdampak negatif pada prospek pertumbuhan ekonomi global sehingga melemahkan permintaan minyak dan komoditas lainnya. Apalagi kemarin, Bank Sentral Amerika (The Federal Reserve Bank) merilis data manufaktur Dallas yang melemah sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap penurunan permintaan minyak.

Dilansir dari Reuters pada pukul 10.42 WIB, harga minyak brent turun tipis sebesar 0,9% atau sebesar US$ 64,29 per barel. Harga minyak mentah berjangka Amerika (WTI) juga turun sekitar 1% menjadi US$ 57,32 per barel. Padahal kemarin, harga minyak brent berhasil naik 5% dan WTI naik sebesar 10% dibanding pekan lalu setelah Iran menembak pesawat tanpa awak milik AS.

Pelemahan harga minyak tidak terlalu dalam karena ditopang ketegangan hubungan AS dengan Iran. Trump sempat membatalkan serangan militer ke Iran. Namun kemudian Trump memberi sanksi terhadap pemimpin utama Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan pemimpin Iran lainnya.

(Baca: Negosiasi Dagang, Trump dan Xi Jinping Sepakat Bertemu di Jepang)

Keputusan Trump yang tidak diduga tersebut justru membawa tekanan terhadap Iran setelah serangan udara ke pesawat tanpa awak AS dan dianggap mampu menopang harga minyak mentah dunia. "Keputusan tersebut secara efektif mengesampingkan pembicaraan atau negosiasi untuk mengakhiri krisis,"kata Tom O’Sullivan, pendiri konsultan energi dankeamanan Mathyos Advisory seperti dikutip dari Reuters, Senin (25/6).

Suplai minyak akan tetap terbatas karena Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan negara sekutunya, termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, diproyeksi akan memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi dalam pertemuan pada 1-2 Juli di Vienna. Menteri Energi Rusia, Alexander Novak menyatakan, kesepakatan internasional terhadap produksi minyak akan membantu menstabilkan pasar minyak. 

Sanksi Iran dan Venezuela yang dikenakan Washinton juga telah berhasil memotong ekspor minyak dari dua negara OPEC. Biarpun produksi minyak AS meningkat, namuan negara paman sam itu harus bersaing dengan beberapa perusahaan Rusia untuk memperebutkan pangsa pasar untuk ekspor energi.

(Baca: Permintaan Melemah, Harga Minyak Indonesia pada Mei Turun Jadi US$ 68)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan